"Oh, Sayang.... My Baby," Bundanya berteriak, pinggulnya menyambut hujaman penis anaknya di vaginanya.

Panis Wawan meluncur dengan mudah ke dalam kehangatan vagina bundanya, tempat dulu dia berasal...temapt dia dilahirkan. Rasanya seperti di surga, ia menikmati bercinta dengan bundanya, dia sedikit terkejut. Seharusnya dia merasa sedikit kotor dan
sesat. Dia seharusnya merasa bersalah, tetapi ia terkesima, betapa alami dan indah rasanya. Bercinta dengan wanita secantik bundanya itu tak tertandingi apa pun juga, ia tidak akan pernah bisa bercinta dengan perempuan lainnya.

Dikuasai oleh rasa nikmat mengalir dari kemaluannya, ia menarik penis besarnya yang berdenyut-denyut keluar sedikit dan kemudian mendorongnya kembali ke dalam vagima bundanya. Sensasi basah yang didapat dari daging hangat yang membungkus penisnya mengalir ke atas ke otaknya.

Bundanya pasti merasakan hal yang sama seperti dia dengan mendorong pinggul untuk menariknya lebih dalam vaginanya ke dalam vaginanya. Ketika dia masuk menghujani bundanya dengan vaginanya dia bisa merasakan payudara telanjang menekan dadanya. Dadanya basah dari susu yang masih keluar dari payudara bundanya.



Mendorong lebih jauh penisnya ke dalam bundanya, ia bisa merasakan kepala penisnya menumbuk mulut rahim bundanya. Mereka seperti dibuat untuk cocok satu sama lain dengan sempurna.

wawan membungkuk dan dengan cepat mencium bundanya lagi. Bundanya membalas ciuman, dan tak lama kemudian lidah mereka bermain didalam mulut. Ibu dan anak berpelukan dan berciuman dengan pinggul mereka menempel satu sama lain.

Gairah yang mengalir melalui tubuhnya dengan cepat berkembang dan terkumpul di pangkal penisnya.

"Bundh..aa!" ia mencoba memperingatkan bundanya, tapi sudah terlambat. Panisnya menyemprotkan cairan putih kental di dalam bundanya, mengirimkan semburan putih panas dan banyak ke vagina bundanya.

"Oh, bayi bunda ..." Ibunya berdeguk, membungkus kakinya di sekelilingnya, dan mendorong pinggulnya ke arah dia.

" MY, Baby ..." Bundanya menangis, suaranya melembut menjadi rengekan ketika tubuhnya kejang dan terus menggeliat.

Berulang-ulang, dia tersentak dan memuncratkan semburan demi semburan air manu yang kental dalam-dalam ke bundanya. Bagaikan surga ketika gelombang demi gelombang kenikmatan menerpa tubuhnya.

"Oh, My, God, I Love You, Bunda" dia tersentak ketika ia menyemburkan mani kental ke dalam bundanya lagi dan lagi.

Akhirnya, dia berhenti menembakkan maninya di dalam bundanya. Kelelahan, Wawan ambruk di atas bundanya.

Tak satu pun dari mereka berbicara saat mereka berbaring menempel satu sama lain selama beberapa saat. Lalu, seakan membaca pikiran masing-masing mereka mulai berciuman dengan penuh kasih sayang dan membelai satu sama lain.

Saat mereka saling membelai, Wawan terkejut bahwa kemaluannya, yang masih menancap didalam vagina bundanya tidak melunak sama sekali. Setelah beberapa saat, ia perlahan-lahan mulai mengerakkan kemaluannya masuk dan keluar dari vagina bundanya yang sangat becek. Pada awalnya mereka bersetubuh dengan lembut tak lama kemudian, tubuh mereka bergerak dalam irama yang panas dan erotik.

"Oh, Sayang , Bunda senang banget," bundanya mengerang ketika anaknya menidurinya.

Bunda... Bunda... Bunda "Ia mendengar dirinya sendiri mengerang tanpa sadar ketika ia merasakan kepala penisnya mentok sampai mulut rahim bundanya. Hasrat terpendam mereka menguasai mereka dan tiba-tiba mereka seperti saling mencakar dan menggigit.

"entot bunda sayang, entot bunda," ia mendengar ibunya mendengus setiap kali ia menghujaini dengan keras bundanya dengan penisnya.



Mereka bersetubuh dengan liarnya, suara persetubuhan mereka saat selangkangan mereka beradu bahkan terdengar walau deru hujan terdengar begitu derasnya.

Akhirnya, setelah dua puluh atau tiga puluh menit, Wawan merasakan “kantong kemenyannya” mulai menegang. Dia bisa merasakan dirinya mendekati klimaks yang hebat ketika bundanya menggeliat dan groveled di bawahnya, mendorongnya untuk menyetubuhi bundanya lebih keras dan keras lagi.

"Oh, Baby, bunda sebentar lagi mau sampai........ !", bundanya akhirnya menjerit dan tubuhnya pun menegang.

Wawan merasa vagina bundanya mencengkram erat penisnya, membuatnya tak bisa lagi menahan klimaknya.



"Argh.......," Wawan berteriak berberangan dengan cahaya terang memenuhi ruangan dari kilat yang menyambar di luar pondok.

Lalu seluruh rumah bergetar saat suara guntur menggelegar mengikuti kilat.